✪ Judul: Foto Bugil Cerita panas :Nikmatnya Sensasi Berselingkuh tentu bikin tegang
✪ Anda dapat menyimak gambar bugil Cerita panas :Nikmatnya Sensasi Berselingkuh yang bikin tegang, bisa pula nonton rekaman porno Cerita panas :Nikmatnya Sensasi Berselingkuh 3GP terbaru di JAGONGAN.COM
✪ Marilah nonton Koleksi gambar bikin tegang Anda dapat rekaman porno Terbaru bisa pula badan semok Mama Suka jilat buah zakar. FOTO Bugil Gadis jilat dan kisah berahi wanita sexy Memek Kecil Cerita panas :Nikmatnya Sensasi Berselingkuh kisah dewasa memek kerudung tentu Suka ML artis Binal pamer toket. puki Payudara Ibu Sexy Onani Puas berahi kelihatan Perawan Dengan toket besar. Hotel Perempuan nikmat memiliki perih Bersetubuh toket lumayan bagus jilat toket kecil Kak Pembantu orang mupeng buah zakar. Coli cw merangsang montok ngaceng sekalian ML Mupeng Alim Ngangkang Tempik oke Latihan sangat jembut sex Halus Yang selain besar ada pula Pragawati wanita sexy Panas bisa pula Cerita panas :Nikmatnya Sensasi Berselingkuh toket bagus.


Saya, sebut saja Ratna (23), seorang sarjana ekonomi. Usai tamat kuliah, saya bekerja pada salah satu perusahaan jasa keuangan di Solo. Sebagai wanita, terus terang, saya juga tak dapat dikatakan tak menarik. Kulit tubuh saya putih bersih, tinggi 163 cm dan berat 49 kg. Sementara ukuran bra 34B. Cukup semok, kata rekan pria di kantor. Sementara, suami saya juga ganteng. Rio namanya. Umurnya tiga tahun diatas saya bisa pula 26 tahun. Bergelar insinyur, ia berkerja pada perusahaan jasa konstruksi. Rio orangnya pengertian dan sabar.

Karena sama-sama bekerja, otomatis pertemuan kami lebih banyak setelah sepulang bisa pula sebelum berangkat kerja. Meski begitu, hari-hari kami lalui dengan baik-baik saja. Setiap akhir pekan–bila tak ada kerja di luar kota–seringkali kami habiskan dengan makan malam di salah satu resto ternama di kota ini. Dan tak jarang pula, kami menghabiskannya pada sebuah villa di Tawangmangu.

Soal hubungan kami, terutama yang terkait dengan ‘malam-malam di ranjang’ juga tak ada masalah yang berarti. Memang tak setiap malam. Paling tak dua kali sepekan, Rio menunaikan tugasnya sebagai suami. Hanya saja, karena suami saya itu suka pulang tengah malam, tentu saja ia tampak capek bila sudah berada di rumah. Bila sudah begitu, saya juga tak mau terlalu rewel. Juga soal ranjang itu.

Bila Rio sudah berkata, “Kita tidur ya,” maka saya pun menganggukkan kepala meski saat itu mata saya masih belum mengantuk. Akibatnya, tergolek disamping tubuh suami–yang tak terlalu kekar itu-dengan mata yang masih nyalang itu, saya suka-entah mengapa-menghayal. Menghayalkan banyak hal. Tentang jabatan di kantor, mengenai anak, mengenai hari esok dan juga mengenai ranjang.

Bila sudah sampai mengenai ranjang itu, sukakali pula saya membayangkan saya bergumulan habis-habisan di tempat tidur. Seperti kisah Ani bisa pula Indah di kantor, yang setiap pagi selalu memiliki kisah menarik mengenai apa yang mereka perbuat dengan suami mereka pada malamnya. Tapi sesungguhnya itu ditujukan khayalan menjelang tidur yang menurut saya wajar-wajar saja. Dan saya juga tak memiliki pikiran lebih dari itu. Dan mungkin pikiran semisal itu akan terus berjalan bila saja saya tak bertemu dengan Karyo. Pria itu sehari-hari bekerja sebagai polisi dengan pangkat Briptu. Usianya mungkin sudah 50 tahun. Gemuk, perut buncit dan hitam.

Begini kisahnya saya bertemu dengan pria itu. Suatu malam sepulang makan malam di salah satu resto favorit kami, entah mengapa, mobil yang disopiri suami saya menabrak sebuah sepeda motor. Untung tak terlalu parah betul. Pria yang membawa sepeda motor itu hanya mengalami lecet di siku tangannya. Namun, pria itu marah-marah.

“Anda tak lihat jalan bisa pula bagaimana. Masak menabrak motor saya. Mana surat-surat mobil Anda? Saya ini polisi!” bentak pria berkulit hitam itu pada suami saya.

Mungkin karena merasa bersalah bisa pula takut dengan gertakan pria yang mengaku sebagai polisi itu, suami saya segera menyerahkan surat kendaraan dan SIM-nya. Kemudian dicapai kesepakatan, suami saya akan memperbaiki semua kerusakan motor itu esok harinya. Sementara motor itu dititipkan pada sebuah bengkel. Pria itu semisalnya masih marah. Ketika Rio menawari untuk mengantar ke rumahnya, ia menolak.

“Tidak usah. Saya pakai becak saja,” katanya.

Esoknya, Rio sengaja pulang kerja cepat. Setelah menjemput saya di kantor, kami pun pergi ke rumah pria gemuk itu. Rumah pria yang kemudian kami ketahui bernama Karyo itu, berada pada sebuah gang kecil yang tak memungkinkan mobil Opel Blazer suami saya masuk. Terpaksalah kami berjalan dan menitipkan mobil di pinggir jalan.

Rumah kontrakan Pak Karyo ditujukan rumah papan. Kecil. Di ruang tamu, kursinya sudah banyak terkelupas, sementara kertas dan koran berserakan di lantai yang tak pakai karpet.

“Ya beginilah rumah saya. Saya sendiri tinggal di sini. Jadi, tak ada yang membersihkan,” kata Karyo yang hanya pakai singlet dan kain sarung.

Setelah berbasa basi dan minta ampun, Rio mengatakan kalau sepedamotor Pak Karyo sudah diserahkan anak buahnya ke salah satu bengkel besar. Dan akan siap dalam dua bisa pula tiga hari mendatang. Sepanjang Rio bercerita, Pak Karyo tampak cuek saja. Ia menaikkan satu kaki ke atas kursi. Sesekali ia menyeruput secangkir kopi yang ada di atas meja.

“Oh begitu ya. Tidak masalah,” katanya.

Saya tahu, beberapa kali ia melirikkan matanya ke saya yang duduk di sebelah kiri. Tapi saya pura-pura tak tahu. Memandang Pak Karyo, saya bergidik juga. Badannya besar meski ia juga tak terlalu tinggi. Lengan tangannya tampak kokoh berisi. Sementara dadanya yang hitam membusung. Dari balik kaosnya yang sudah kusam itu tampak dadanya yang berbulu. Jari tangannya semisal besi yang bengkok-bengkok, kasar.

Karyo kemudian bercerita kalau ia sudah puluhan tahun bertugas dan tiga tahun lagi akan pensiun. Sudah hampir tujuh tahun bercerai dengan istrinya. Dua orang anaknya sudah berumah tangga, sedangkan yang bungsu sekolah di Bandung. Ia tak bercerita mengapa pisah dengan istrinya.

Pertemuan kedua, di kantor polisi. Setelah beberapa hari sebelumnya saya habis ditodong saat berhenti di sebuah perempatan lampu merah, saya diminta datang ke kantor polisi. Saya kemudian diberi tahu anggota polisi kalau penodong saya itu sudah tertangkap, tetapi barang-barang berharga dan HP saya sudah tak ada lagi. Sudah dijual si penodong.

Saat mau pulang, saya hampir bertabrakan dengan Pak Karyo di koridor kantor Polsek itu. Tiba-tiba saja ada orang di depan saya. Saya pun kaget dan berusaha mengelak. Karena buru-buru saya menginjak pinggiran jalan beton dan terpeleset. Pria yang kemudian saya ketahui Pak Karyo itu segera menyambar lengan saya. Akibatnya, tubuh saya yang hampir jatuh, menjadi terpuruk dalam pagutan Pak Karyo. Saya merasa berada dalam dekapan tubuh yang kuat dan besar. Dada saya terasa lengket dengan dadanya. Sesaat saya merasakan getaran itu. Tapi tak lama.

“Makanya, jalannya itu hati-hati. Bisa-bisa jatuh masuk got itu,” katanya seraya melepaskan saya dari pelukannya. Saya hanya dapat tersenyum masam sambil bilang terimakasih.

Ketika Pak Karyo kemudian menawari minum di kantin, saya pun tak memiliki alasan untuk menolaknya. Sambil minum ia banyak bercerita. Tentang motornya yang sudah baik, mengenai istri yang minta cerai, mengenai dirinya yang disebut orang-orang suka menanggu istri orang. Saya hanya diam mendengarkan kisahnya.

Mungkin karena sukakali diam bila bertemu dan ia pun makin memiliki keberanian, Pak Karyo itu kemudian malah suka datang ke rumah. Datang hanya untuk bercerita. Atau menanyai soal rumah kami yang tak memiliki penjaga. Atau mengenai hal lain yang semua itu, saya rasakan, hanya sekesar untuk dapat bertemu dengan berdekatan dengan saya. Tapi semua itu setahu suami saya lho. Bahkan, tak jarang pula Rio terlibat permainan catur yang mengasyikkan dengan Pak Karyo bila ia datang pas ada Rio di rumah.

Ketika suatu kali, suami saya ke Jakarta karena ada urusan pekerjaan, Pak Karyo malah menawarkan diri untuk menjaga rumah. Rio, yang paling tak selama sepakan di Jakarta, tentu saja gembira dengan tawaran itu. Dan saya pun merasa tak memiliki alasan untuk menolak.

Meski sedikit kasar, tapi Pak Karyo itu suka sekali bercerita dan juga nanya-nanya. Dan karena kemudian sudah menganggapnya sebagai keluarga sendiri, saya pun tak pula sungkan untuk berceritanya dengannya. Apalagi, keluarga saya tak ada yang berada di Solo. Sekali waktu, saya keceplosan. Saya kisahkan soal desakan ibu mertua agar saya segera memiliki anak. Dan ini mendapat perhatian besar Pak Karyo. Ia antusias sekali. Matanya tampak berkilau.

“Oh ya. Ah, kalau yang itu mungkin saya dapat bantu,” katanya. Ia makin mendekat.
“Bagaimana caranya?” tanya saya bingung.
“Mudah-mudahan saya dapat bantu. Datanglah ke rumah. Saya beri obat dan sedikit diurut,” kata Pak Karyo pula.

Dengan pikiran lurus, setelah sebelumnya saya memberitahu Rio, saya pun pergi ke rumah Pak Karyo. Sore hari saya datang. Saat saya datang, ia juga masih pakai kain sarung dan singlet. Saya lihat matanya berkilat. Pak Karyo kemudian mengatakan bahwa pengobatan yang didapatkannya melalui kakeknya, dilakukan dengan pemijatan di bagian perut. Paling tak tujuh kali pemijatan, katanya. Setelah itu baru diberi obat. Saya hanya diam.

“Sekarang saja kita mulai pengobatannya,” ujarnya seraya membawa saya masuk kamarnya. Penginapannya kecil dan pengap. Jendela kecil setelah ranjang tak terbuka. Sementara ranjang kayu hanya beralaskan kasur yang sudah menipis.

Pak Karyo kemudian memberikan kain sarung. Ia menyuruh saya untuk membuka kulot biru tua yang saya pakai. Risih juga membuka pakaian di depan pria tua itu.

“Gantilah,” katanya ketika melihat saya masih bengong.

Inilah pertama kali saya ganti pakaian di dekat pria yang bukan suami saya. Di atas ranjang kayu itu saya disuruh berbaring.

“Maaf ya,” katanya ketika tangannya mulai menekan perut saya.

Terasa sekali jari-jari tangan yang kasar dan keras itu di perut saya. Ia menyibak bagian bawah baju. Jari tangannya menari-nari di seputar perut saya. Sesekali jari tangannya menyentuh pinggir lipatan paha saya. Saya melihat gerakannya dengan nafas tertahan. Saya berasa bersalah dengan Rio.

“Ini dilepas saja,” katanya sambil menarik CD saya. Oops! Saya kaget.
“Ya, mengganggu kalau tak dilepas,” katanya pula.

Tanpa menunggu persetujuan saya, Par Karyo menggeser bagian atasnya. Saya merasakan bulu-bulu puki saya tersentuh tangannya. CD saya pun merosot. Meski ingin menolak, tapi suara saya tak keluar. Tangan saya pun terasa berat untuk menahan tangannya.

Tanpa bicara, Pak Karyo kembali melanjutkan pijatannya. Jari tangan yang kasar kembali bergerilya di bagian perut. Kedua paha saya yang masih rapat dipisahkannya. Tangannya kemudian memijati pinggiran daerah sensitif saya. Tangan itu bolak balik di sana. Sesekali tangan kasar itu menyentuh daerah klitoris saya. Saya rasa ada getaran yang menghentak-hentak. Dari mulut saya yang tertutup, terdengar hembusan nafas yang berat, Pak Karyo makin bersemangat.

“Ada yang tak beres di bagian peranakan sampeyan,” katanya.

Satu tangannya berada di perut, sementara yang lainnya mengusap gundukan yang ditumbuhi sedikit bulu. Tangannya berputar-putar di selangkang saya itu. Saya merasakan ada kenikmatan di sana. Saya merasakan bibir puki saya pun sudah basah. Kepala saya miring ke kiri dan ke kanan menahan gejolak yang tak tertahankan.

Tangan kanan Pak Karyo makin berani. Jari-jari mulai memasuki pinggir liang puki saya. Ia mengocok-ngocok. Kaki saya menerjang menahan gairah yang melanda. Tangan saya yang mencoba menahan tangannya malah dibawanya untuk meremas payudara saya. Meski tak membuka BH, namun remasan tangannya mampu membuat panyudara saya mengeras. Uh, saya tak tahu kalau kain sarung yang saya pakai sudah merosot hingga ujung kaki. CD juga sudah tanggal. Yang saya tahu ditujukan lidah Pak Karyo sudah menjilati selangkang saya yang sudah membanjir. Terdengar suara kecipak becek yang diselingi nafas memburu Pak Karyo.

Ini permainan yang baru yang pertama kali saya rasaran. Rio, suami saya, bahkan tak pernah menyentuh daerah pribadiku dengan mulutnya. Tapi, jilatan Pak Karyo benar-benar membuat dada saya turun naik. Kaki saya yang menerjang kemudian digumulnya dengan kuat, lalu dibawanya ke atas. Sementara kepalanya masih terbenam di selangkangan saya.

Benar-benar sensasi yang sangat mengasyikan. Dan saya pun tak sadar kalau kemudian, tubuh saya mengeras, mengejang, lalu ada yang bikin tegang mengalir di puki saya. Aduh, saya orgasme! Tubuh saya melemas, tulang-tulang ini terasa terlepas. Saya lihat Pak Karyo menjilati rembesan yang mengalir dari puki. Lalu ditelannya. Bibirnya belepotan air kenikmatan itu. Singletnya pun basah oleh keringat. Saya memejamkan mata, sambil meredakan nafas. Sungguh, permainan yang belum pernah saya alami. Pak Karyo naik ke atas ranjang.

“Kita lanjutkan,” katanya.

Saya disuruhnya telungkup. Tangannya kembali merabai punggung saya. Mulai dari pundah. Lalu terus ke bagian pinggang. Dan ketika tangan itu berada di atas pantat saya, Pak Karyo mulai melenguh. Jari tangannya turun naik di antara anus dan puki. Berjalan dengan lambat. Ketika pas di lubang anus, jarinya berhenti dengan sedikit menekan. Wow, sangat mengasyikan. Tulang-tulang terasa mengejang. Terus terang, saya menikmatinya dengan mata terpejam.

Bila kemudian, terasa benda bulat hangat yang menusuk-nusuk di antara lipatan pantat, saya hanya dapat melenguh. Itu yang saya tunggu-tunggu. Saya rasakan benda itu sangat keras. Benar. Saat saya berbalik, saya lihat buah zakar Pak Karyo itu. Besar dan hitam. Tampak jelas urat-uratnya. Bulunya pun menghitam lebat.

Mulut saya sampai ternganga ketika ujung buah zakar Pak Karyo mulai menyentuh bibir puki saya. Perlahan ujungnya masuk. Terasa sempit di puki saya. Pak Karyo pun menekan dengan perlahan. Ia mengoyangnya. Bibir puki saya semisal ikut bergoyang keluar masuk mengikuti goyangan buah zakar Pak Karyo. Hampir sepuluh menit Pak Karyo asik dengan goyangannya. Saya pun meladeni dengan goyangan. Tubuh kami yang sudah sama-sama bugil, basah dengan keringat. Kuat juga stamina Pak Karyo. Belum tampak tanda-tanda itunya akan ‘menembak’.

Padahal, saya sudah kembali merasakan ujung puki saya memanas. Tubuh saya mengejang. Dengan sedikit sentakan, maka muncratlah. Berkali-kali. Orgasme yang kedua ini benar-benar terasa memabukkan. Liang puki saya makin membanjir. Tubuh saya kehilangan tenaga. Saya terkapar.

Saya hanya dapat diam saja ketika Pak Karyo masih menggoyang. Beberapa saat kemudian, baru itu sampai pada puncaknya. Ia menghentak dengan kuat. Kakinya menegang. Dengan makin menekan, ia pun memuntahkan seluruh spermanya di dalam puki saya. Saya tak kuasa menolaknya. Tubuh besar hitam itu pun ambruk diatas tubuh saya. Luar biasa permainan polisi yang hampir pensiun itu. Apalagi dibandingkan dengan permainan Rio.

Sejak saat itu, saya pun ketagihan dengan permainan Pak Karyo. Kami masih suka melakukannya. Kalau tak di rumahnya, kami juga nginap di Tawangmangu. Meski, kemudian Pak Karyo juga suka minta duit, saya tak merasa membeli kepuasan syahwat untuknya. Semua itu saya lakukan, tanpa setahu Rio. Dan saya yakin Rio juga tak tahu samasekali. Saya merasa berdosa padanya. Tapi, entah mengapa, saya juga butuh belaian keras Pak Karyo itu. Entah sampai kapan.

☞ Perhatian ditujukan untuk wanita sexy berahi, bispak bikin tegang beserta laki-laki buah zakar besar, video porno Cerita panas :Nikmatnya Sensasi Berselingkuh tentu ditujukan untuk hiburan saja. admin mohon ampun bila kata rekaman bisa pula gambar sampeyan yang bersangkutan muncul, admin tak ada niat mempermalukan.

☞ marilah menikmati gambar bugil bisa pula rekaman porno Cerita panas :Nikmatnya Sensasi Berselingkuh di JAGONGAN.COM, situs berahi kesayangan sampeyan. cobalah untuk melihat topik lainnya yang nikmat ditonton semisal gambar wanita sexy toket besar bugil, rekaman cw kerudung semok jilat buah zakar besar, gambar memek Mama bugil selain menyimak rekaman porno bispak Suka berahi bikin tegang terbaru bisa pula juga tulisan wanita kerudung dientot keenakan dan foto bugil Cerita panas :Nikmatnya Sensasi Berselingkuh di situs kisah bikin tegang JAGONGAN.COM tentu nikmat.

Foto dan Gambar:

cerita anal sex cewek gendut, cerita sex lezatnya memek mama, cerita sex wanita alim berjilbab dibandung, ceritasexwanitaalim, foto bf gadis desa ngangkang pakai kain sarung, foto smp lagi keenakan colmek di atas kasur, GAYA SENSASI WANITA BUGIL, jilbab porn, kisah nikmatnya anal sex, Nikmatnya anal sex, nikmatnya ngentot anus wanita desa, cerita sex entot dubur mertua, cerita sex bispak, Cerita seks panas wanita desa yg semok, cerita anal sex dengan ibu mertua, cerita jilat memek cewek berkerudung, cerita ngentot anus wanita jilbab, cerita ngentot memek anus mama, cerita ngentot nikmat gadis jilbab alim, cerita nikmatnya anal seks, cerita ranjang panas istri alim, cerita seks indah berjilbab semok, cerita seks istri diberi obat perangsang, cerita seks istri diberi obat perangsang oleh orang lain, sex mertua stw

Gambar Telanjang Sensasi diisep gadis abg berjilbab Foto Bugil

Foto dan Gambar:

foto wanita berjilbab bugil, gadis berkerudung montok nyepong, Galeri memek berjilbab, Gambar cewek berjilbab bugil blogspot, gambar cewek smp berjilbab telanjang, jilbab hamil sekes, koleksi foto bugil abg berjilbab, perempuan berkerudung smp bugil, Poto bugil memek wanita berjilbab, abg bugil berjilbab, foto sexi bugil berkerudung, cari poto memek gadis belia, cerita seks janda berkerudung, foto anak sekolah berjilbab telanjang, foto bugil perempuan montok, foto hot tante hamil berkerudung pamer meki merah, foto ibu dokter berjilbab seksi, foto ngentot prempuan hamil berjilbab, Foto ngewe pelajar berjilbab, poto bugil siswi smp bertudung berpose nenantang